wanita rumah tangga

kemarin bersih - bersih sekre bem Unpad. hari ini blog walking baca blog seorang cewek hobi masak.

double attack.

abis bersih - bersih sekre badan lemah-letih-lesu-remuk. (padahal setelah bersih - bersih masih sempet becandaan, jemput pemateri, bolak balik sekre bem-bpm untuk rapat dan piket lagi pleus ngusirin orang2 yang masih ada di sekre pas magrib. ini 3LR gue -,-“). Sepulang dari sekre bem, sampai kosan langsung terkapar pingsan sampai pagi. lemes selemes-lemesnya.

kondisi kayak gitu jadi bikin agak iri sama cewek-cewek atraktif yang masih sempet dan kuat ngerjain hal perumahtanggaan (beres2-nyuci-nyetrika-masak) sendiri. Gaul banget ya rasanya. Bukan, bukan gue gak bisa masak/beres2. cuma ya itu, suka ngerasa lebih cape ngerjain kayak gituan. semacam lebih seneng disuruh baca setumpuk buku-analisis-bikin karya tulis, mobile kesana kemari atau bikin konsep sesuatu dibandingin ngerjain hal yang kayak gitu.

Tapi jadinya super iri sama cewek - cewek yang mampu ngerjain kerjaan cewek banget. Nah, gara-gara iri sekarang jadi onfire lagi untuk masak dan beres-beres. Kalo sekarang mudah-mudahan bisa istiqamah.

tapi sampe sekaran masih bingung. kalo banyak cewek yang ingin masakan dan hasil beres2nya diliat orang… kenapa gue bener2 malu kalo orang tau itu masakan gue/hasil beres2 gue?. malu, sekalipun hasilnya (mungkin) baik.

kyaaaa, wanita rumah tangga selalu berhasil bikin gue iri.

pengelolaan

masih tentang ekpektasi yang tinggi.

harusnya diri, bisa dikelola lebih baik lagi.
bisa mengelola lebih baik lagi.

sampai akhirnya bisa ngasih teladan, tanpa menuntut orang jadi teladan.

at least, kayaknya saya bener-bener butuh spasi tanpa kata apapun.
sendiri.

supresi

mekanisme pertahanan diri kata Freud ada banyak macam. salah satunya adalah supresi.


Supresi merupakan suatu proses pengendalian diri yang terang-terangan ditujukan menjaga agar impuls-impuls dan dorongan-dorongan yang ada tetap terjaga (mungkin dengan cara menahan perasaan itu secara pribadi tetapi mengingkarinya secara umum). Individu sewaktu-waktu mengesampingkan ingatan-ingatan yang menyakitkan agar dapat menitik beratkan kepada tugas, ia sadar akan pikiran-pikiran yang ditindas (supresi) tetapi umumnya tidak menyadari akan dorongan-dorongan atau ingatan yang ditekan (represi)

ini yang sedang saya (mungkin juga mereka) kerjakan.

roda

1minggu sekali banding 1 bulan sekali.
1minggu sekali full diskusi banding 1 bulan sekali satu arah.

cara orang beda - beda yah.
kalau jadi pemimpin yang dipimpin, mau gak mau harus banget nyesuain diri.
ini belajar.
kalau dulu ada di pucuk, punya harapan tinggi gak masalah.
sekarang harus sadar kondisi.
bukan tony stark yang bisa dorong baling - baling jadi semua bisa gerak.
bukan.

pusatnya putar cepet, tengahnya diem
tapi yang paling luar dipaksa puter lebih cepet.
ada gesekan, ada rasa sakit, ada rasa perih untuk yang ditengah.

bakalan indah jadinya,
andai yang pusat mau faham kebutuhan yang tengah.
yang tengah gak perlu mengaduh sakit karena sadar itu takdir
dan yang paling luar….. mau nyesuain irama dengan yang dalem.


#mikirin beberapa gerakan dan kebijakan

"Being in control of your life and having realistic expectations about your day-to-day challenges are the keys to stress management, which is perhaps the most important ingredient to living a happy, healthy and rewarding life."
Jalan

Gak satupun bisa minta saya untuk gak nangis.
Gak satupun bisa minta saya untuk gak cerita di media sosial.

Ini saya dengan segala kurang dan lebihnya. Saya pribadi gabisa jamin saya gak nangis kalau betul - betul tertekan. Atau saya gak cerita di media sosial ketika ada hal yang memang betul saya ingin bagi.
That’s the way that I have choose to express my feeling.
But for sure, secara pribadi saya tetep nyoba terus ngupayain yang terbaik. Iya nangis, tapi merhatiin tempat dan orang. Iya cerita di medsos, tapi liat apa yang diceritain dan gimana cara nyeritainnya :)

Jelek buruk Indonesiaku

akanokoizumi:

Ilmu di Negeri Ini Tidak Dihargai?

Tadi pagi ada seorang datang ke rumah, menawarkan kompor elektrik, saya tanya ini itu, ternyata dia seorang Engineer, seorang Insinyur elektronika dari sebuah Universitas negeri ternama. Beberapa minggu lalu juga disebuah mall ada seorang dokter yang memasarkan peralatan kesehatan baru dengan memeriksa darah dan membagikan brosur. 

Saya lihat di televisi, pelawak-pelawak yang beradegan konyol, blo’on dan cuwakwa’an, gebuk-gebukan gabus naik mobil yang harganya diatas 600 juta. Bandrol harga atas profesinya milyaran rupiah.

Saya heran dengan masyarakat kita yang sekarang, orang yang tekun belajar dan benar-benar menggunakan otaknya dihargai hanya 500 ribu sampai dengan 2 juta perak saja, tapi orang yang berani konyol bisa berharga milyaran. Bagi saya ini sudah tak lucu lagi, masyarakat kita sedang sakit, ketika ketekunan, kejujuran dan kecerdasan sudah tak dihargai maka ada yang tak beres di dalam masyarakat ini. 

Tak heran yang muncul di televisi adalah Intelektual kelas rendahan, politisi bermulut comberan dan gagasan hiburan yang super konyol tak mencerdaskan. Dahulu kita masih menikmati lawakan-lawakan cerdas Warkop DKI liwat radio-radio, mampu menerjemahkan folklore menjadi sebuah kelucuan yang dimengerti banyak orang, ada Bing Slamet ada Kang Ibing, tapi sekarang lawakan kita hanya gebuk-gebukan gabus dan mengata-ngatai fisik orang. Rupanya revolusi tidak harus dimulai dari penggulingan pemerintahan SBY, tapi revolusi itu harus dimulai dari penghancuran sistem masyarakat kita yang sekarang lewat revolusi budaya. 

ANTON DH NUGRAHANTO

suka-luka

28.April.1990 - 28.April.2012

Momen pertambahan usia buat saya jadi momentum berharga untuk merenungi sejauh mana saya berjalan. 22 tahun (TAH CAPSLOCK, GARIS BAWAH, BOLD!) saya hidup-dikasih Allah- masih jauh dari paripurna. Segala susah dan dukanya, senang dan sukanya udah cukup banyak saya rasa. Harusnya bukan cuma dirasa, tapi muncul makna.

Kali ini saya coba berani ngorek luka, jujur sama diri sendiri. Walaupun gak sampai dalem, semoga tepat tanggal 28 diusia menginjak 22tahun ini saya bisa menuliskan-berbagi. Biar semua orang bisa ambil hikmah, biar semua orang tahu bahwa setiap orang pernah punya luka.

Bahwa benar sampai sekarang nyerinya masih terasa, tapi semoga bisa terus diubah jadi nikmat yang patut disyukuri.

Here we go.

Buat saya sejauh ini, there’s something that very hurt me. Ditinggalkan.
2008 saya ditinggalkan oleh seorang teman laki-laki yang dulu cukup berarti. That was my fault sampai akhirnya dia pergi. So I learned, saya harus hati-hati supaya teman gak pergi lagi atau lebih baik saya yang pergi daripada harus orang yang pergi (kalau masuk konteks organisasi-pertemanan dll).
2008 juga, setelah ditinggal teman pergi. My mom passed away. Saya kembali ditinggalkan. Sampai saya akhirnya sadar bahwa yang tidak akan meninggalkan saya cuma Allah.

Bagaimanapun juga jadi orang yang ditinggalkan enggak pernah mudah. Keep moving day by day even year by year. Memperkuat hati danlain-lain. Tapi pada akhirnya saya sadari ini takdir. Cara Allah mendidik, cara Allah sayang.

Banyak efek setelahnya buat diri pribadi yang sampai usia saya sekarang harus terus recovery. keep moving dan gak menyesali atau muncul trauma karenanya. Walau kadang susah kalau harus berinteraksi dengan orang2 yang punya kemiripan dengan mereka yang sudah pergi. Tapi pada akhirnya saya tetep harus berusaha berani menghadapi :)

Luka ya luka. berbekas kadang nyeri. But show must go on. Fokus sama rasa sakit bukan pilihan. Allah kasih banyak suka-nikmat.

selama perjalanannya maka Allah lebih mendekatkan saya pada tarbiyah yang dulu mungkin sekedar memenuhi tuntutan ayah. Akhirnya saya mulai maknai sambil terus memperbaiki diri. Usia 22 tahun.. dikasih adik - adik solehah, dikasih tim pembelajar, dikasih proses yang (semoga) terus bisa mendewasakan diri. Ditinggal dua orang diberi banyak. Nikmat.

Ketakutan akan ditinggalkan selalu ada. Tapi pernah ditinggalkan harusnya mengajarkan ikhlas. mengajarkan bahwa pada semuanya akan kembali pada Allah. mengajarkan bahwa… sengaja meninggalkan bukan pilihan. Biar Allah yang susun cerita kapan bertemu kapan harus berpisah.

semoga bisa terus diresapi. semoga.

pemimpin, blackberry dan netbook

Jaman makin canggih. blackberry dan netbook salah satu yang trendy di jaman yang canggih ini. Buat seorang aktivis, buat seorang pemimpin demi jaringan yang lebih luas, kemudahan informasi dll. Pemimpin, blackberry dan netbook.

Ada apa?
Cerita sedikit tentang apa yang saya alami dan itu sangat membekas. Siang itu saya duduk - duduk di kantin dengan netbook dan BB diatas meja. Ga lama berdatangan beberapa orang duduk satu meja dengan saya. Ya dengan setting kantin, meja-kursi dan manusia.. akhirnya ada interaksi, ngobrol ini itu. Saya ya dengerin aja, sesekali liatin sambil fokusnya tetep ka netbook kadang ke bb karena banyak bbm dan sms masuk.

Gak lama, seorang senior negur sedikit bentak.. nyuruh ke saya untuk masukin netbook dan bb ke dalem tas karena didepan saya banyak orang ngobrol. Kesannya gak ngehargain. Simpel tapi nampar banget.

Saya sering juga ngerasain ngomong sama orang yang fokusnya sering banget ke netbook dan bb nya. kebanyakan mereka punya peran sbg pemimpin. Pemimpin, BB dan netbook kayak satu paket dalam hidupnya (oke, ga selalu BB mungkin HP). Tapi betul. ada rasa tidak dihargai ketika bicara dan seorang pemimpin berfokus pada bb/hp/netbook nya. Mungkin apa yang dibacanya penting. mungkin sms nya harus segera dibaca, mungkin materi di netbooknya harus segera dipelajari. Tapi rasanya lebih bijak kalau selesaikan satu-satu. Fokus pada lawan bicara atau minimal izin.. kita bicara sambil ngerjain sesuatu entah bales sms/bbm atau mempelajari materi.

Not to mention somebody. Saya juga masih sering kayak gitu. Tapi sejak kejadian siang di kantin, saya jadi lebih sering hati-hati berinteraksi dengan gadget ketika sedang berinteraksi langsung dengan individu lain. Bagaimanapun kalau kita bicara sama oranglain, ingin dihargai kan? bukan hanya didengar. :)

harusnya saya nyampein ini ke salah seorang teman-pemimpin saya. harusnya

what’s next?

“agar lebih bersemangat milikilah tujuan dan target dlam hidup” Tim GK-

Tujuan dan target. Dua hal yang seringkali diucapkan motivator atau ‘orang sukses’. Belakangan saya gak punya target komprehensif. membiarkan hidup mengalir begitu saja, membiarkan Allah memberi takdir apa saja (tanpa menjemput).

Sampailah saya di persimpangan jalan. Mau kemana?. Saya sempet mikir, hidup terus kejar target bikin cape. Kita bikin target-kejar-tercapai-bikin target baru-kejar-tercapai-bikin lagi-kejar-tercapai. Gak merasakan. Lalu saya biarkan hidup apa adanya, diam dan mengerjakan apa yang menghampiri. Bukan menjemput seperti dulu bahkan sampai lari-lari.

Ini bicara tentang pencapaian pribadi. Sudah dapat ini dan itu. sudah sampai di pos-pos yang saya impikan. Lalu sekarang apa? banyak pos lain yang saya harus berjalan kesana tapi saya milih diam.
Saya masih terus ngerasain dan mikirin, pos lain itu apa butuh saya susulin? atau cuma karena orang udah ada di pos itu lalu saya susulin?

maka jawaban dari pertanyaan “what’s next” bagi saya akan sangat bergantung pada sejauh mana pemaknaan hidup, bahagia dan apa passion saya.

diam kali ini semoga gak berarti mati.

Theme created by: Roy David Farber and Hunson. Powered By: Tumblr...
1 of 42